Rabu, 14 Desember 2022

Proyek P5 ‘Budidaya Lele’

Proyek P5 ‘Budidaya Lele’

 

Di semester gasal tahun ini siswa kelas VI SD Juara Semarang bersepakat melakukan budidaya lele sebagai kegiatan pembelajaran proyek penguatan profil pelajar pancasila (P5).

Sebelumnya siswa melakukan analisa potensi yang ada di lingkungan sekolah. Maka diperoleh ada kolam ikan yang tidak terpakai. Akhirnya disepakati proyek budidaya ikan dengan memanfaatkan kolam ikan yang tidak terpakai di belakang sekolah.



Langkah berikutnya adalah menentukan ikan yang akan dipelihara. Siswa melakukan studi literature mencari ikan yang cocok dengan kondisi lingkungan sekolah. Beberapa siswa melakukan presentasi kelebihan kekurangan ikan. Dari hasil diskusi disepakati untuk budidaya ikan lele.

Kolam pun disiapkan, dibersihkan dan diisi air untuk mengkondisikan siap digunakan budidaya ikan.

Ada orangtua siswa yang bersedia menyumbangkan bibit ikan sehingga tidak perlu membeli. Bahkan lengkap dengan pakan nya. Bibit ikan lele yang ditebar sebanyak 95 ekor.

Untuk melakukan perawatan ikan berupa pemberian makan dan mengontrol kolam dilakukan siswa sesuai jadwal tugas piket harian. Begitupun untuk penggantian air atau pengurasan kolam.




Untuk menambah stok pakan siswa sepakat untuk memberikan donasi atau sumbangan sukarela diantara mereka.

Setiap dua pekan sekali bersamaan dengan penggantian air, siswa melakukan penghitungan ulang jumlah ikan dan pengukuran panjang badan ikan untuk menganalisa apa yang perlu dilakukan kemudian.



Untuk mengamankan kolam dari gangguan factor luar maka siswa sepakat membuat penutup kolam dan juga membuat poster peringatan.




Penutup kolam dibuat dari bahan bambu bekas yang dirangkai.

Setelah tiga bulan berjalan, tibalah masa panen.

Panen dilakukan bertepatan dengan perayaan ulang tahun sekolah.

Semua siswa terlibat aktif dalam pengolahan ikan lele. Ada yang bertugas memanen, menyembelih, membersihkan, dan menggoreng. Siswa putri ditugasi untuk menyiapkan bumbu lele goreng dan melakukan pengorengan.






Hasil olahan ikan lele dibagi ke semua siswa SD Juara Semarang. Hasil proyek kelas VI bisa dinikmati oleh semua warga sekolah termasuk bapak ibu guru.

Banyak pelajaran yang bisa diperoleh siswa selama proses budidaya lele, diantaranya; ketrampilan melakukan analisa, ketrampilan menggali ide dan menyampaikannya dengan presentasi, ketrampilan gotong royong atau kerjasama, dan kemampuan teknis memelihara ikan lele. Semua pelajaran tersebut menjadi sarana menguatkan profil pelajar pancasila.




Rabu, 09 November 2022

Buku: Membentuk Karakter Peserta Didik

Buku: Membentuk Karakter Peserta Didik




Buku tipis tapi berisi.

Meski hanya 115 halaman tapi isinya komplit.

Ditulis oleh orang yang ber-karier di sebuah lembaga pendidikan yang memiliki ribuan siswa diantaranya dari luar negeri, dari menjadi seorang cleaning service hingga dipercaya menjadi direktur SDM.

Penulis meramu tulisan dengan berbagai sudut pandang (pendapat para ahli pendidikan, sejarah, konsep pendidikan timur barat dan islam), menjadi sebuah teori yang mudah dipahami dan dipraktekkan.

Buku ini bisa menjadi panduan kurikulum upgrading SDM pendidikan, baik guru maupun tenaga kependidikan.

Berikut daftar 7 bab yang ada dalam buku ini;

Bab I bagaimana membangun pendidikan karakter di sebuah lembaga pendidikan

Bab II bagaimana aplikasi pendidikan tanpa kekerasan

Bab III apa saja dan bagaimana peran seorang leader atau kepala sekolah di lembaga pendidikan

Bab IV penjelasan detail peran guru sebagai arsitek sebuah peradaban

Bab V bagaimana seorang guru bisa merancang dan melakukan pembelajarn yang bermakna

Bab VI apa makna ujian dalam sebuah lembaga pendidikan

Bab VII serba serbi konsep sekolah, acara orientasi untuk siswa, dan kurikulum sekolah

Segera dapatkan di toko buku terdekat!

Matematika Perilaku 2

Matematika Perilaku 2



Bagaimana cara pengucapan angka (sebelah atas) yang benar?

Kenyataannya banyak yang akan mengatakan dua satu lima.

Apakah salah dengan mengatakan demikian?

Jika dalam sebuah operasi hitung jelas salah karena angka dua, satu, dan lima masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda. Angka dua berkedudukan ratusan, angka satu puluhan, dan lima ada di satuan. Harusnya dibaca dua ratus lima belas.

Seringkali kita jumpai baik siswa maupun guru mengucapkan dengan cara yang pertama.

Sekilas hal itu tampak tidak menjadi masalah. Namun, secara tidak langsung kita telah menanamkan dalam alam bawah sadar tentang tidak masalah jika tidak konsisten.

Padahal perilaku konsisten sangat penting dalam kehidupan. Tidak konsisten akan menjadikan seseorang mudah berbohong atau tidak jujur. Karena merasa tidak masalah mengatakan sesuatu yang salah.

Konsisten dalam istilah agama disebut istiqomah. Dan ternyata Allah mencintai orang yang walaupun sedikit kebaikannya tapi dilakukan dengan istiqomah atau konsisten.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)