Tampilkan postingan dengan label Project Based Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Project Based Learning. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2024

Poster Peduli Lingkungan

Bab terakhir yang dipelajari di mata Pelajaran IPAS kelas V bertajuk bumiku malang. Menjelaskan tentang berbagai bentuk bencana yang terjadi.

Siswa kami ajak untuk membuat poster peduli lingkungan yang ditempelkan di area sekitar rumah mereka.

Harapannya dengan project ini mereka tumbuh kesadaran untuk peduli lingkungan sekitar rumah. Sekaligus bisa menginspirasi teman-teman mereka untuk bersama menjadi relawan peduli lingkungan.

Belajar bencana yang penting bukan tahu peristiwa bencana tapi memahami apa akar masalah yang menyebabkan terjadinya bencana dan tahu sika papa yang harus diambil untuk melakukan pencegahan terjadinya bencana.








Walhasil mereka pun semangat sekali membuat poster dan menempelkannya.

Dan ini adalah project terakhir yang mereka lakukan selama duduk di kelas V. semoga semakin meningkat kecerdasan sosial mereka.

Kamis, 06 Juni 2024

Talkshow dan Bedah Buku

Alhamduliilah, sesuai rencana buku ‘Misteri Keluarga Stonesia’ di Launching kemarin kamis, 30 Mei 2024 pukul 07.00-08.00 WIB.



Dari awal hingga akhir acara dipandu oleh host kondang, Dita dan Ashifa siswa kelas V SD Juara Semarang.

Acara diawali dengan tasmi Alqur’an surat al-Alaq ayat 1-5 yang dibawakan oleh Niam, dan terjemahnya dibacakan oleh Ibrahim.


Selanjutnya, siswa kelas V memberikan sedikit hiburan dengan menampilkan yel-yel kelas stonesia.

Puncak acara launching buku ‘Talkshow dan Bedah Buku’ dipandu langsung oleh penyusun buku sekaligus penulis satu judul cerita yaitu bapak Joko Kristiyanto alias pak Jek.




Talkshow diisi oleh dua panelis yang juga penulis cerita di buku ini. Pertama, Nafisa penulis tema misteri. Berdasarkan pengakuan pak Jek, tulisan Nafisa itulah yang memberikan inspirasi munculnya judul buku. Kedua, Muthia yang menulis empat judul cerita fabel.




Untuk sesi Bedah Buku menampilkan dua penulis yang me-review tulisan mereka. Pertama, Azka yang menulis dua judul cerita. Ia mengulas tulisannya yang berjudul “Wang Yoo Raja Lapangan”. Kedua, Shofa yang mengulas tulisannya berjudul “Lini Love Mama”.



Talkshow dan Bedah Buku diikuti oleh semua siswa dan guru serta beberapa orangtua anggota komite sekolah.

Berikut video liputannya:



Selesai acara banyak siswa yang menyerbu pak Jek bertanya, “pak mau beli buku harganya berapa?”.

Monggo yang ingin order nulis pesan di kolom komentar.

Rabu, 29 Mei 2024

Media Stonesia #3

Serba serbi Ramadhan




Media Stonesia edisi ke-3 meliput segala kegiatan Ramadhan siswa stonesia.

Ada banyak program yang direncanakan, mulai dari; berbagi takjil, One Day One Juz (ODOJ), itikaf, hingga sungkeman dan silaturahmi lebaran.

Program ODOJ dan itikaf menjadi program yang paling challenging.




Program ODOJ diikuti oleh 13 siswa. Alhamdulillah 10 diantaranya berhasil mengkhatamkan Alqur’an sekali selama Ramadhan. Ada satu siswa yang berhasil dua kali khataman.

Program itikaf memberikan pengalaman seru. Ibadah yang mulai menjadi langka ternyata bisa dilakukan siswa.




Semoga semua ibadah yang dilakukan selama Ramadhan kemarin diterima oleh Allah dan menjadi bekal mengarungi kehidupan 11 bulan kedepannya.

Selasa, 28 Mei 2024

Launching buku cerita fiksi


Buku cerita fiksi yang akan di launching berjudul ‘Misteri keluarga stonesia’.

Judul tersebut diambil dari judul bab yang ada di buku cerita tersebut.

Buku dengan tebal 190 halaman itu terdiri dari tujuh bab; Misteri, Keluarga, Persahabatan, Prestasi, Olahraga, Keseharian, dan Fabel. Dan berisi 41 judul cerita.




Buku akan dilaunching besok kamis, 30 Mei 2024 pukul 07.00 - 08.00 WIB di teras lantai I SD Juara Semarang.

Saat launching, pembicara akan membedah bagaimana proses penyusunan buku, sumber ide cerita, dan membacakan ringkasan beberapa cerita yang ada di buku tersebut.

Buku akan dibedah langsung oleh penulisnya, yaitu; Pak Jek penulis sekaligus penyusun buku, Nafisa penulis dengan jumlah halaman terbanyak, dan Muthia penulis dengan genre fabel.

Acara sepenuhnya akan dipandu oleh host kondang Ashifa dan Dita. Mereka juga salah dua dari 22 penulis cerita yang ada di buku tersebut.

Hadir ya!

Senin, 06 Mei 2024

Proyek Literasi

Proyek Literasi

 

Di semester II ini, siswa kelas V SD Juara Semarang akan membuat buku Kumpulan cerita fiksi sebagai salah satu proyek literasi.

Setiap jam mata Pelajaran Bahasa Indonesia, guru menjelaskan tentang bagaimana Teknik menulis lengkap dengan contoh tulisan yang ada di buku cerita.

Selanjutnya siswa langsung praktek menulis cerita fiksi. Cerita ditulis dibuku tulis dan di cek oleh guru setiap pertemuan.

Tahap berikutnya, siswa memindahkan tulisan yang ada di buku tulis ke personal computer yang ada di laboratorium computer saat jam mata Pelajaran TIK.



Guru akan menyimpan semua file tulisan siswa untuk proses editing di drive email.

Proyek ini ditargetkan sebelum akhir semester buku sudah tercetak dan bisa di launching.

Senin, 02 Oktober 2023

Produk P5

Sharing Session:
Produk P5

Sabtu, 30 september 2023 lalu saya diberikan kesempatan untuk sharing di depan guru-guru SMPQ Al-Hayah Pati.

Kali itu saya menyampaikan tentang pembelajaran berbasis project.

Bermula dari pemikiran sederhana tentang apa yang dihasilkan dari proses belajar sehari-hari di sekolah?. Kurang lebih 8 jam setiap hari siswa belajar di sekolah. Sayang jika dalam waktu selama itu tidak ada yang dihasilkan.



Hasil dari sebuah proses belajar biasa disebut produk belajar. Ada banyak macam produk belajar yang bisa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu; produk yang terlihat (tangible), dan produk yang tidak terlihat (intangible)
Diantara contoh produk belajar yang terlihat adalah buku karya hasil pembelajaran seperti yang saya buat bersama siswa kelas VI SD Juara Semarang tahun pelajaran lalu. 
Buku tersebut adalah hasil dari pelaksanaan P5 (proyek penguatan profil pelajar pancasila).
Sedangkan contoh produk tak terlihat diantaranya bertambahnya pengetahuan dan pemahaman siswa, dan kemampuan yang melekat pada diri siswa yang tidak terlihat secara langsung. 

Lantas, apa hubungan antara produk belajar dengan pembelajaran berbasis project?
Pembelajaran berbasis project adalah salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk menghasilkan sebuah produk belajar yang diinginkan.
Ketika guru merancang sebuah project pembelajaran, tentunya sudah ada minimal bayangan hasil akhir yang akan didapatkan. Gambaran hasil akhir inilah inspirasi dari produk belajar.



Ketika saya menjadikan menulis memoar atau kisah pengalaman belajar siswa menjadi P5 maka saat itu juga saya telah membayangkan nanti hasil akhirnya adalah sebuah buku antologi atau tulisan bersama. Sejak awal semester bayangan itu saya sampaikan ke siswa untuk afirmasi sekaligus motivasi. 
Sepanjang semester siswa saya target untuk membuat beberapa tulisan berdasarkan pengalaman pribadi mereka saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Setiap pekan progress tulisan selalu dievaluasi. 
Walhasil selama satu semester, saya dan siswa berhasil menuliskan memoar kisah pembelajaran menjadi sebuah buku antologi cerpen.

Ada tiga hal yang menentukan jika seorang guru ingin menyusun buku serupa. Yaitu; adanya kegiatan yang berbasis project, dokumentasi kegiatan, dan coretan kecil yang berisi konten dari kegiatan atau istilah kekiniannya copy writing atau caption. Akan lebih mudah lagi penyusunan buku jika guru memiliki sarana penyimpanan di dunia maya seperti blog atau media sosial (fb, ig dll)

Kamis, 29 Desember 2022

Membuat Kartu Identitas Anak

Membuat Kartu Identitas Anak


Kegiatan membuat Kartu Identitas Anak (KIA) adalah salah satu proyek turunan dari mata pelajaran PKn bab memahami hak dan kewajiban warga negara.

Proyek membuat KIA bisa dikatakan sebagai puncak kegiatan di bab tersebut.



Kegiatan diawali dengan diskusi tentang definisi hak dan kewajiban warga negara. Setelah siswa berhasil menyimpulkan definisi dan bisa memberi contoh tentang hak dan kewajiban punvaknya mereka melaksanakan proyek membuat KIA.

Kenapa membuat KIA? Karena banyak hak anak sebagai warga negara yang hanya bisa didapatkan dengan syarat anak memiliki KIA. Dengan kata lain urusan administrasi apapun di masyarakat, instansi pemerintah yang berhubungan dengan pengurusan hak anak pasti menanyakan KIA.




Alhamdulillah hampir semua anak sudah berhasil membuat KIA. Mereka ikut terlibat langsung dalam proses pembuatannya. Dari kegiatan tersebut memberikan banyak pengalaman pada anak. Pengalaman tersebut pasti akan dikenang sepanjang hidup hingga kelak mereka menjadi orangtua akan bisa bercerita kepada anak-anaknya dulu bapak/ibu waktu SD pernah buat KIA sendiri.

Rabu, 14 Desember 2022

Proyek P5 ‘Budidaya Lele’

Proyek P5 ‘Budidaya Lele’

 

Di semester gasal tahun ini siswa kelas VI SD Juara Semarang bersepakat melakukan budidaya lele sebagai kegiatan pembelajaran proyek penguatan profil pelajar pancasila (P5).

Sebelumnya siswa melakukan analisa potensi yang ada di lingkungan sekolah. Maka diperoleh ada kolam ikan yang tidak terpakai. Akhirnya disepakati proyek budidaya ikan dengan memanfaatkan kolam ikan yang tidak terpakai di belakang sekolah.



Langkah berikutnya adalah menentukan ikan yang akan dipelihara. Siswa melakukan studi literature mencari ikan yang cocok dengan kondisi lingkungan sekolah. Beberapa siswa melakukan presentasi kelebihan kekurangan ikan. Dari hasil diskusi disepakati untuk budidaya ikan lele.

Kolam pun disiapkan, dibersihkan dan diisi air untuk mengkondisikan siap digunakan budidaya ikan.

Ada orangtua siswa yang bersedia menyumbangkan bibit ikan sehingga tidak perlu membeli. Bahkan lengkap dengan pakan nya. Bibit ikan lele yang ditebar sebanyak 95 ekor.

Untuk melakukan perawatan ikan berupa pemberian makan dan mengontrol kolam dilakukan siswa sesuai jadwal tugas piket harian. Begitupun untuk penggantian air atau pengurasan kolam.




Untuk menambah stok pakan siswa sepakat untuk memberikan donasi atau sumbangan sukarela diantara mereka.

Setiap dua pekan sekali bersamaan dengan penggantian air, siswa melakukan penghitungan ulang jumlah ikan dan pengukuran panjang badan ikan untuk menganalisa apa yang perlu dilakukan kemudian.



Untuk mengamankan kolam dari gangguan factor luar maka siswa sepakat membuat penutup kolam dan juga membuat poster peringatan.




Penutup kolam dibuat dari bahan bambu bekas yang dirangkai.

Setelah tiga bulan berjalan, tibalah masa panen.

Panen dilakukan bertepatan dengan perayaan ulang tahun sekolah.

Semua siswa terlibat aktif dalam pengolahan ikan lele. Ada yang bertugas memanen, menyembelih, membersihkan, dan menggoreng. Siswa putri ditugasi untuk menyiapkan bumbu lele goreng dan melakukan pengorengan.






Hasil olahan ikan lele dibagi ke semua siswa SD Juara Semarang. Hasil proyek kelas VI bisa dinikmati oleh semua warga sekolah termasuk bapak ibu guru.

Banyak pelajaran yang bisa diperoleh siswa selama proses budidaya lele, diantaranya; ketrampilan melakukan analisa, ketrampilan menggali ide dan menyampaikannya dengan presentasi, ketrampilan gotong royong atau kerjasama, dan kemampuan teknis memelihara ikan lele. Semua pelajaran tersebut menjadi sarana menguatkan profil pelajar pancasila.




Jumat, 15 Juli 2022

Project Pembelajaran Leadership di SD

Import post

Contoh hasil 'tambang emas' nya guru


 Menggagas Pembelajaran Leadership di Sekolah Dasar

 Ditulis oleh: Joko Kristiyanto*

 

Demi hidupmu, tidaklah suatu negeri sempit karena penduduknya,

Tetapi yang menjadikannya sempit adalah akhlaq para pemimpinnya.

(Noname)

 

Kutipan syair diatas mengisyaratkan bahwa leadership (kepemimpinan) sangat menentukan kondisi suatu negara. Negara yang kuat pasti memiliki pemimpin yang hebat. Lalu, bagaimana caranya agar negara bisa memiliki pemimpin hebat?

Sekolah adalah salah satu institusi yang bertanggungjawab dalam hal ini. Leadership harusnya masuk dalam kurikulum sekolah dan diimplementasikan oleh guru melalui kegiatan pembelajarannya.

Sejauh ini, pembelajaran leadership baru dilaksanakan di tingkat sekolah menengah dengan dibentuknya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) itupun baru sebatas kegiatan ekstrakurikuler. Dan kebanyakan untuk tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) keberadaan OSIS belum sampai menjadi kesadaran siswa untuk melaksanakan tapi masih sebatas penunjukan dari pihak sekolah. Baru di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) saja, siswa mendapat porsi yang lebih besar dalam menentukan keberadaan OSIS. Dengan kondisi seperti ini wajarlah jika para pelajar Indonesia masih lemah sisi leadership-nya. Maka, jika perlu harusnya leadership menjadi bidang studi sendiri atau minimal menjadi kegiatan intrakurikuler di semua sekolah.


Pentingnya Pembelajaran leadership di Sekolah Dasar

Mungkinkah bisa pembelajaran leadership di insert di kurikulum Sekolah Dasar (SD)? Jawabannya adalah bisa saja, tergantung pada pihak sekolah dan guru yang melaksanakannya.

Terkait kurikulum, sejak 2006 ketika pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahap awal, pemerintah sudah mengisyaratkan bahwa setiap sekolah boleh menyusun sendiri kurikulum jika mampu. Jika belum mampu, sekolah bisa menggunakan kurikulum yang sudah disusun Depdikbud atau menduplikasi dari sekolah lain yang memiliki kesamaan visi dan misi dengan sekolah tersebut. Artinya, pemerintah sangat terbuka dengan kurikulum yang diterapkan di tiap sekolah, termasuk dalam hal ini jika sekolah menginginkan porsi lebih dalam hal leadership boleh saja sekolah menyusun sendiri kurikulumnya. Ketetapan ini berlaku umum, termasuk didalamnya sekolah tingkat dasar juga bisa mensikapi ketetapan ini dengan menyusun kurikulum yang khas di sekolah masing-masing.

Ada sebuah analogi yang patut direnungkan untuk memahami dan meyakinkan mengapa leadership harus di insert-kan mulai dari jenjang pendidikan tingkat dasar. Siapa yang tidak kenal dengan Tiger Woods. Ia adalah legenda hidup olahraga golf. Di usia yang masih muda ia telah menjadi pegolf nomor wahid sedunia dengan penghasilan besar sehingga iapun masuk daftar orang terkaya sedunia. Pernahkah terpikir mulai kapan ia belajar golf dan punya keinginan menjadi pegolf dunia? Ternyata, ia sudah berlatih golf sejak usia dua tahun dan bermimpi menjadi pegolf terbaik sedunia ketika dia berusia delapan tahun atau usia siswa kelas dua SD.

Dari analogi diatas ada satu pelajaran penting yang bisa diambil. Untuk menjadi orang hebat harus melakukan latihan sejak kecil. Sehingga jika diinginkan akan lahir pemimpin hebat dari pelajar Indonesia, harus diadakan latihan leadership sejak jenjang pendidikan terendah atau paling tidak sejak jenjang pendidikan SD. Oleh karena itu layak dicoba untuk dibentuk OSIS di tingkat SD. 

 

Simulasi pembelajaran leadership di SD

Simulasi berikut ditulis berdasarkan pada kisah nyata yang belum lama ini dipraktekkan penulis.

Pada medio Maret lalu, disaat semua media massa Indonesia mengeksposs hiruk pikuk demonstrasi menolak kenaikan BBM ada momentum bersejarah yang terjadi di sebuah sekolah swasta di Semarang. Momentum tersebut adalah Pemilihan Umum (Pemilu) OSIS yang memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Kegiatan Pemilu ini merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas IV yang sudah dimulai sejak Februari. Kegiatan pembelajaran yang menginisiasi terbentuknya OSIS ini bersumber dari silabus kurikulum dengan standar kompetensi mengenal struktur organisasi pemerintah Indonesia.  Pada umumnya di sekolah lain, ketika sampai pada materi pembelajaran bab ini siswa diminta untuk menghafalkan nama-nama menteri kabinet yang ada di pemerintah pusat Republik Indonesia (RI). Tapi tidak begitu di sekolah ini. Guru mempunyai keinginan agar siswa tidak hanya menghafal nama-nama menteri, tapi mereka juga bisa merasakan, mengalami dan melakukan proses terbentuknya sebuah struktur pemerintahan. Maka dibuatlah kegiatan pembelajaran dengan tag-line atau tema akulah presiden OSIS.

Kegiatan pembelajaran yang berlangsung hampir dua bulan dengan durasi tatap muka dua jam pelajaran tiap pekannya ini berlangsung dalam tujuh tahap. Tiap tahap dilaksanakan dalam satu kali tatap muka.

 

Tahap pertama, Brainstorming.

Pada tahap ini guru mengajak siswa untuk memahami makna organisasi beserta contoh organisasi yang ada di sekitar mereka. Tahap ini dilakukan dengan strategi pembelajaran diskusi. Guru melakukan eksplorasi pemahaman anak tentang organisasi dengan cara setiap siswa menyampaikan arti organisasi yang diketahuinya. Dari beberapa definisi yang disampaikan oleh para siswa, guru memberikan kesimpulan dan contoh organisasi mulai dari yang terdekat dengan siswa yaitu organisasi kelas dan sekolah. Hingga akhirnya semua siswa memiliki pemahaman yang sama tentang organisasi.


Setelah dirasa para siswa sudah cukup paham tentang organisasi, berikutnya guru melakukan Pemahaman tentang Pemilu yang dilaksanakan dengan strategi game puzzle (seperti pada gambar). Pada tahap ini semua siswa di fasilitasi untuk memahami proses pemilu dengan studi kasus pemilu tahun 2009 di Indonesia. Semua siswa dibagi beberapa kelompok untuk merangkai puzzle pemilu yang menggambarkan tahapan-tahapan pemilu. Puzzle pemilu berisi gambar-gambar tahapan pemilu, dari mulai terbentuknya Komite Pemilihan Umum (KPU) sampai pelantikan presiden dan wakil presiden. Siswa bebas mengurutkan gambar sesuai pengalaman yang mereka miliki ketika melihat proses pemilu tahun 2009. Setelah jadi, masing-masing kelompok mempresentasikan puzzle tadi di depan kelas. Setelah semua presentasi guru mengoreksi tahapan pemilu yang tidak sesuai dengan acuan surat edaran resmi pemerintah tentang tahapan pemilu sehingga semua siswa memahami dengan benar tahapan-tahapan pemilu di Indonesia.

Tahap kedua, Pembagian Kelompok Kerja (Pokja)

Setelah memahami tahapan pemilu siswa dibagi menjadi empat  kelompok kerja. Tiap pokja membentuk partai calon peserta pemilu. Dari tiap kelompok yang dibentuk mengirimkan satu wakil untuk menjadi anggota KPU. Tiap kelompok bermetamorfose menjadi partai calon peserta pemilu yang akan diseleksi administrasi oleh KPU. KPU juga bertugas menentukan syarat-syarat kelengkapan administrasi partai yang bisa mengikuti pemilu. Dari rapat perdana diputuskan beberapa syarat kelengkapan administrasi partai calon peserta pemilu, diantaranya; mempunyai struktur partai minimal ketua, sekretaris, bendahara. Memiliki nama dan logo partai, memiliki calon presiden dan wakil presiden, memiliki anggota minimal 15 orang yang bisa direkrut dari siswa semua kelas dan dibuktikan dengan tanda tangan di form yang dibuat sendiri oleh partai bersangkutan.

Tahap ketiga, Penetapan Partai Peserta Pemilu

Di tahap ini, KPU melakukan seleksi partai calon peserta pemilu dengan cara mengecek kelengkapan administrasi yang telah ditentukan. Dari empat partai hasil bentukan tiap pokja (Partai Wortel, Partai Pisang, Partai Semangka, dan Partai Pisang) akhirnya hanya dua partai yang berhasil lolos dan ditetapkan sebagai peserta pemilu, yaitu; partai Wortel dan Partai Semangka.

Tahap keempat, Sosialisasi Jadwal Pemilu

Tahap ini diawali dengan pembuatan jadwal pemilu oleh KPU, dan penentuan nomor urut partai peserta pemilu yang akan dicantumkan pada kartu suara. Selain nomor urut, di kartu suara juga dicantumkan foto dan nama semua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Setelah jadwal pemilu, nomor urut dan calon ditetapkan, KPU segera menempel publikasi pemilu ke tiap sudut sekolah.

 


Tahap kelima, Debat terbuka pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden

Debat terbuka pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden merupakan salah satu bagian dari kegiatan kampanye yang difasilitasi KPU. Tujuannya adalah agar calon pemilih mengetahui program-program yang direncanakan para calon, sehingga mereka tidak ‘seperti membeli kucing dalam karung’.

Debat terbuka dilaksanakan di salah satu ruang kelas dan diikuti oleh semua siswa dan dua orang panelis dari guru. Debat diawali dengan presentasi program yang disampaikan para calon. Setelah itu panelis menanggapi presentasi calon. Tanggapan bisa berupa kritikan maupun dukungan. Semua siswa yang menghadiri debat terbuka tersebut juga diberi kesempatan secara terbuka untuk mengkonfirmasi program yang disampaikan calon. Di tahap ini kecakapan berkomunikasi para calon benar-benar diuji. Retorika masing-masing calon dalam menanggapi masukan atau kritikan bisa meningkatkan tingkat keyakinan pemilih atau justru sebaliknya bisa saja menurunkan tingkat keyakinan pemilih sehingga beralih ke calon lain. Di akhir acara debat terbuka, KPU memberikan simulasi dan tata cara memilih yang benar.


Tahap keenam, Pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden

Tahap yang paling menentukan adalah tahap pemilihan dengan cara mencontreng kartu suara yang bergambar dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kartu suara dibuat oleh KPU sejumlah pemilih dan dimasukkan kedalam box per kelas. Pemilihan dilaksanakan di ruang kelas masing-masing. Semua siswa terlibat dalam pemilihan, bahkan gurupun dilibatkan, karena mereka juga termasuk bagian dari masyarakat sekolah. Setelah mencontreng, pemilih menempelkan jari kelingkingnya pada bantalan tinta yang disediakan dan menempelkannya pada form daftar pemilih yang sudah disiapkan KPU sebagai tanda ia telah menggunakan hak suaranya.


Setelah pemilihan usai langsung dilanjutkan dengan penghitungan suara. Dari semua kartu suara ada yang masih kosong karena ada beberapa siswa yang tidak masuk. Ada juga yang rusak karena di contreng pada semua calon. Saat penghitungan suara, masing-masing calon menunjuk saksi yang menyaksikan langsung KPU menghitung kartu suara. Setelah dihitung suara terbanyak diraih oleh pasangan calon dengan nomor urut I.

Tahap terakhir, Pidato Presiden terpilih

Pada tahap terakhir, tibalah saatnya presiden terpilih memberikan pernyataan resminya didepan publik sekolah melalui Pidato presiden yang  dilaksanakan di waktu upacara hari senin.


Namun kegiatan tidak berhenti sampai disini saja. Selanjutnya, presiden terpilih harus menyusun kabinetnya dan menetapkan program-programnya.

Kedepannya, pihak manajemen sekolah akan melibatkan pengurus OSIS tersebut secara aktif dalam pengelolaan setiap kegiatan sekolah sehingga mereka benar-benar merasakan bekerja untuk melayani masyarakat sekolah karena pada prinsipnya “pemimpin itu adalah pelayan bagi yang dipimpinnya atau sayyidul qaum qadhimuhum.”

Pengalaman siswa dalam berorganisasi di sekolah sejak dini akan mempercepat kedewasaan mereka dalam berfikir, karena mereka akan sering berhadapan dengan masalah dan dituntut untuk mampu menyelesaikannya. Selain itu, mereka juga akan tumbuh menjadi remaja yang kreatif dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.

Sudah waktunya di setiap SD dibentuk OSIS sebagai wahana siswa untuk menempa karakter dan kepribadian terutama dalam hal mental leadership-nya. Karena, di tangan merekalah 20 tahun mendatang nasib bangsa ini ditentukan.


*tulisan ini berhasil menjadi juara II lomba menulis esai guru dalam rangka HUT Kota Semarang ke-465 dengan sedikit perubahan pada judul. judul aslinya adalah "urgensi pembelaajran leadership di sekolah dasar". Tulisan ini adalah pengembangan dari lesson plan dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan penulis. Tulisan ini menjadi bukti bahwa lesson plan adalah tambang emasnya guru . . . ayo guru Indonesia SEMANGAT!!!

Jualan Telor Asin

Jualan Telor Asin

 

Di awal tahun berdiri, SD Juara Semarang pernah punya kegiatan yang relevan dengan kurikulum merdeka saat ini, yaitu jualan telor asin.

Acara bisnis day bermula dari masukan yang disampaikan oleh guru Learning Support Unit (LSU) atau bimbingan konseling atas hasil observasi terhadap perilaku siswa. Disimpulkan bahwa perlu ada media yang bisa meningkatkan kebersamaan diantara siswa dan bisa menggerus rasa egois diantara mereka.




Dari rapat bersama disepakati untuk membuat event kegiatan bersama yaitu produksi telur asin.

Mengapa produksi telur asin? Karena banyak kegiatan sejak persiapan hingga panen yang dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan seluruh modalitas siswa baik fisik maupun non fisik.

Kegiatan dirancang mulai dari memproduksi sendiri telur asin hingga panen dan menjualnya disaat bisnis day. Siswa berhasil menjual telur asin yang diproduksi sendiri ke warga sekitar sekolah.


Semua siswa sangat antusias mengikuti seluruh kegiatan. Dan setelah kegiatan ada perubahan signifikan pada perilaku siswa. Sebelumnya banyak yang egois menjadi lebih suka kebersamaan.

Senin, 11 Juli 2022

Cosplay pahlawan

Cosplay pahlawan

 

Sebagai bentuk ekspresi penghargaan kepada para pahlawan yang telah gugur membela tanah air, siswa kelas 5 SD Juara Semarang diajak gurunya untuk membuat costplay para pahlawan.




Selain membuat costplay siswa juga diminta untuk menuliskan kisah perjuangan pahlawan yang dipilih. Harapannya mereka mengenali biografi pahlawan tersebut dan bisa mengambil hikmah untuk kehidupan sehari-hari.