Kamis, 04 Agustus 2022

Buku Pendidikan Anak dalam Islam

Buku Pendidikan Anak dalam Islam

 

Buku karya Prof. Abdullah Nasih Ulwan ini memiliki konten yang sangat komplit tentang bagaimana kita mendidik anak-anak sejak sebelum kelahiran sampai mengantarkan mereka menuju mahligai rumah tangga. Tidak hanya teori atau konsep saja, akan tetapi juga banyak contoh praktis dan metodologis yang kesemuanya di bingkai dengan nilai-nilai alqur’an dan sunah baginda Rasulullah saw.


Saya memperoleh buku ini dari seorang sahabat yang memberinya sebagai kado pernikahan di awal 2002 lalu. Hingga hari ini saya sering merujuk buku ini ketika menemukan masalah dalam pendidikan anak. Semoga menjadi amal jariyah untuk beliau.

Buku ini terdiri dari tiga bagian dan tiap bagian terdiri dari beberapa pasal. Berikut detail-nya;

Bagian pertama

Pasal ke-1 tentang Pernikahan ideal dan kaitannya dengan pendidikan anak

Pasal ke-2 tentang perasaan orangtua terhadap anak-anak

Pasal ke-3 tentang hukum seputar kelahiran anak

Pasal ke-4 tentang sebab-sebab kenakalan pada anak dan bagaimana cara mengatasinya

Bagian kedua

Pasal ke-1 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan iman anak

Pasal ke-2 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan moral anak

Pasal ke-3 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan fisik anak

Pasal ke-4 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan akal anak

Pasal ke-5 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan kejiwaan anak

Pasal ke-6 tentang tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan social anak

Pasal ke-7 tentang tanggungjawab orangtua terhadap pendidikan seksual anak

Bagian ketiga

Pasal ke-1 tentang metode pendidikan yang berpengaruh terhadap anak

Pasal ke-2 tentang kaida-kaidah asasi dalam pendidikan anak

Pasal ke-3 tentang usulan edukatif yang harus tersampaikan kepada anak


“Komplit sekali ya.”

Kayaknya buku ini wajib dibaca, terutama oleh para orangtua dan guru sebagai rujukan utama dalam mempraktekkan pendidikan pada anak. Cocok juga untuk rujukan para trainer atau konsultan pendidikan anak.

Selasa, 02 Agustus 2022

Harry Santosa, peramu konsep Fitrah Based Education (FBE)

Harry Santosa, peramu konsep Fitrah Based Education (FBE)

 


“Setiap anak terlahir diatas fitrah. Orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (Alhadits)

Sebelum ada konsep FBE rasanya cukup sulit untuk memahami konsep fitrah dalam pendidikan anak. Alhamdulillah dengan adanya konsep FBE mulai ada titik terang apa dan bagaimana konsep fitrah dalam pendidikan anak.

Sungguh kita berutang budi pada beliau, almarhum ustadz Harry Santosa yang berhasil meramu dari berbagai sumber dan mengolahnya menjadi suatu konsep yang sistematis dan gamblang dalam menerangkan tentang fitrah anak dan bagaimana orangtua meski bersikap dengan fitrah tersebut. Seluruhnya bisa secara detail kita baca di buku FBE.

photo: web fbe

Meski baru sekali berkesempatan ketemu langsung saat beliau menjadi pembicara di sebuah seminar di Surabaya namun saya sangat terkesan dengan beliau. Dari materi yang disampaikan dan bagaimana menjawab pertanyaan yang dilontarkan para peserta tampak sekali beliau seorang yang sangat menguasai konsep sekaligus praktisi yang handal. Top markotop pokoknya. Mencerahkan.



Barangkali sudah ada firasat sebelumnya, di akhir hidupnya setiap hari beliau selalu buat konten baru di channel youtube untuk menjelaskan konsep FBE. Setahun lebih beliau sudah meninggalkan kita. Tapi beliau telah meninggalkan masterpiece yang masih bisa kita baca. Kita juga masih bisa melihat jejak-jejak beliau di laman  https://fitrahbased.com/ .

Senin, 01 Agustus 2022

SIT, 19 tahun turut membangun Indonesia

SIT, 19 tahun turut membangun Indonesia

31 Juli 2022 lalu JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) menghelat perayaan miladnya yang ke-19.


photo: web Republika

Di usia ke-19 sudah berdiri 2000 lebih Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang tersebar di seluruh Indonesia. Bisa jadi JSIT adalah jaringan sekolah terbesar di Indonesia.



Saya memulai karier sebagai guru di sebuah SIT di Semarang tahun 2002.

Ada sebuah candaan yang masih saya ingat sampai sekarang. Dengan tertawa teman kami pernah mengartikan terpadu di nama SIT dengan arti tergantung pada duit. Padahal saat itu SIT masih terbilang sekolah swasta yang berbayar murah. Tapi rupanya sekarang candaan tadi menjadi kenyataan.

Yang saya ingat dari pembekalan yang diberikan saat menjadi guru, bahwa SIT semangatnya adalah untuk menghilangkan dikotomi antara mata pelajaran umum dengan mata pelajaran agama. Semua mata pelajaran diharapkan terintegrasi dengan nilai agama. Terkait pembelajaran alqur’an untuk hafalan tingkat sekolah dasar target lulusannya hafal 5 juz alqur’an.

Hanya doa dan harapan yang bisa saya sampaikan, semoga dengan jumlah sekolah yang sebegitu banyak semoga SIT bisa terus menjadi pelopor pembangunan bangsa Indonesia.

Yang ingin tahu lebih banyak tentang SIT bisa cek di laman https://jsit-indonesia.com/ atau datang langsung ke SIT terdekat. Pasti mudah mendapatinya.