Rabu, 12 November 2025

Ayah, jangan biarkan ibu sendiri

Ayah, jangan biarkan ibu sendiri


Setelah sekian purnama vakum akhirnya kami berusaha menulis lagi. Pas, hari ini bertepatan dengan hari ayah nasional

Beberapa waktu lalu kami berkesempatan membersamai para orang tua wali murid sebuah TK Islam di Pantura wilayah timur mengikuti kegiatan sekolah orangtua yang diadakan oleh Yayasan.



Sebagaimana pengalaman kami sebelumnya, selalu peserta didominasi oleh ibu-ibu. Kenapa bisa begitu, ya?

Kami menduga ada dua kemungkinan keadaan;

Pertama, ayahnya sangat sibuk bekerja sampai harus merantau jauh dari rumah dan merasa yang penting sudah mencukupi kebutuhan materi keluarga sudah cukup sehingga menyerahkan sepenuhnya Pendidikan anak kepada ibu. Jadi, ayahnya ada tapi rasanya seperti tidak ada.

Kedua, ayahnya memang tidak ada karena sudah meninggal atau pisah dengan ibu.

Keadaan tersebut diatas, memaksa seorang ibu menjadi single parent. Tentu berat, dan pasti berdampak pada tumbuh kembang anak.

Idealnya, seorang anak mendapatkan sentuhan pendidikan dari kedua orangtuanya. Ketika salah satu atau bahkan keduanya tidak ada, maka mereka tetap memiliki kebutuhan yang sama yaitu interaksi dengan seorang ayah dan ibu.

Fenomena yang sering disebut fatherless saat ini sudah memakan banyak korban. Ada anak yang kena virus LGBT, ada yang mengalami split personality atau secara umum muncullah generasi strawberry generasi yang kelihatan baik diluarnya, tapi ternyata jiwanya rapuh mudah putus asa dan menyerah saat menghadapi permasalahan dalam kehidupan.



Seorang ayah disadari atau tidak menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas fenomena tersebut. Walaupun semua pihak juga perlu mengambil bagian peran untuk membantu mengatasi. Seperti yang dilakukan sekolah dengan mengadakan sekolah orangtua. Kegiatan ini sangat bisa diduplikasi lembaga yang ada di lingkungan masyarakat seperti PKK atau RT. Apalagi di daerah yang saat ini mendapatkan subsidi dana untuk operasional kegiatannya.

Intinya, semua pihak perlu turut andil. Karena untuk mendidik seorang anak tidak cukup dengan orangtua sekampung, apalagi dengan single parent? Iya khan!.

Kamis, 29 Mei 2025

The Backpacker

The Backpacker


Ini nie salah satu gaya belajar di sekolah alam yang unik dan keren

Saat sekolah lain mengakhiri akhir tahun ajaran berjibaku dengan soal diatas kertas, siswa Sekolah Muda Mandiri (setingkat SMA) melanglangbuana melintasi pulau
Ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari kegiatan backpacker seperti ini
Dari saat membuat plan banyak yang mereka pelajari; memahami geografis daerah yang dituju, membuat plan moda transportasi yang dipilih, mengkalkulasi biaya yang dibutuhkan. Biasnya tidak cukup dengan satu plan tapi perlu ada plan b, plan c dst yang semuanya membutuhkan input ilmu pengetahuan sehingga otomatis mereka mengakses berbagai sarana literasi
Belum lagi saat pelaksanaan backpacker. Pastinya akan banyak hal yang mereka alami. Karena dalam perjalanan walaupun sudah direncanakan dengan matang selalu ada masalah yang muncul diluar dugaan. Hal itu memberikan bonus ilmu pengetahuan dan pengalaman yang baru semakin mengkayakan dan mendewasakan kepribadian
Bang Lendo Novo (Allah yarhamhu) dulu pernah bilang ke saya backpacker itu menduplikasi kebiasaan ras terbaik yang pernah ada di bumi yang diantara aktifitasnya sepanjang tahun adalah mengadakan perjalanan (tadabburi Qur'an surat alquraisy) yang diantara keturunan terbaik mereka adalah Baginda Rasulullah Saw yang di usia beliau sekira 12 tahun beliau sudah melakukan perjalanan ribuan kilometer
Kalo kita pengen generasi penerus memiliki kekuatan tidak hanya pengetahuan tapi juga mental dan berbagai keahlian maka seringlah ajak mereka backpacker -an seperti para ranger sekolah muda mandiri ini
Bravo Sekolah Muda Mandiri
Zawwadakumullahu taqwa, wa ghofara dzanbakum, wayassara lakumulkhair haitsuma kuntum

Kamis, 14 November 2024

50 juta per semester

Coba katakan maksimal dengan dua kata judul diatas! Banyak banget, mahal banget, deelel

Kakak sedang bahas apakah?

Let story begin...

Beberapa hari lalu, dek Inab (nama panggilan untuk putri ketiga kami) sempat ikut acara semacam openhouse fakultas kedokteran di sebuah Perguruan Tinggi (PT)

Actually, dia sangat bersemangat ikut acara tersebut karena sejak dari SD memang pengen banget bisa menjadi dokter. Bahkan sempat aktif ikut ekskul dokter kecil.



Di kegiatan tersebut dia diajak keliling kampus, ditunjukkan beragam kegiatan perkuliahan, dan seterusnya. termasuk yang cukup excited yaitu dia sempat memegang mayat yang digunakan untuk praktek.

Ketika pulang tak lupa pihak PT membawakan brosur untuk diberikan kepada orangtua.

Sesampai di rumah dek Inab cerita panjang lebar pengalamannya ikut acara tersebut.

Tapi pada akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk tidak jadi ambil kuliah jurusan kedokteran karena biaya yang sangat mahal.

Semester awal (1&2) harus bayar semesteran sebesar lebih dari 90 juta. Semester 3 dan seterusnya 50 juta per semester.

Mungkin nilai segitu bagi sebagian orangtua terhitung kecil. Tapi bagi orangtua yang penghasilannya hanya sedikit diatas UMK tentu sangat besar. Bahkan nilai segitu bisa jadi hampir sama dengan total penghasilannya setahun.

Bagaimana tidak, misal penghasilan bulanan 4 juta jika dikali 12 bulan maka ketemu 48 juta. Malah lebih kecil dari harga SPP satu semester di fakultas kedokteran.

Finally,

“Ya sudah dek, kita cari jurusan lain saja yang masih relate dengan bakatmu”, kataku menghiburnya.

Satu semester 50 juta bagi kami saat ini ibarat 'bagai pungguk merindukan bulan'. 

Mungkin bagi PT harga segitu sengaja ditetapkan untuk menyeleksi anak siapa yang bisa masuk kesitu.

Apakah benar seperti itu pendidikan dijalankan?

Bagaimana menurut kalian, netizen



Rabu, 13 November 2024

Gado-gado

Apa yang terbayang di benak kalian saat membaca judul diatas? Pasti makanan, ya khan!

 

Beberapa hari lalu, saya diberi kesempatan mengisi up-grading guru

Ada 30 guru jenjang TK dan SD yang ikut

Waktu yang diberikan hanya satu jam

Ketua Yayasan menginginkan, setelah up grading semua guru bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas pembelajaran di masing-masing jenjang sekolah.



And then … Show must begin

Saya bagi waktu yang tersedia untuk empat aktifitas;

Pertama, persiapan untuk mengkondisikan peserta dengan yel-yel, salam motovasi dan pembentukan kelompok

Kedua, aktifitas kelompok untuk meng-konstruksi konsep tema tertentu dengan cara mind mapping. Secara singkat saya memberikan penjelasan dan contoh mind mapping

Ketiga, presentasi, eksplorasi (tanya jawab dan diskusi). Salah satu anggota kelompok ditunjuk untuk menjadi presenter yang mempresentasikan konsep yang dirumuskan dalam kelompok tadi. Sementara anggota kelompok yang lain disebar ke kelompok lain untuk mengetahui konsep yang dihasilkan kelompok lain dengan cara tanya jawab dan diskusi

Keempat, evaluasi dan refleksi. Evaluasi dilakukan dengan menuliskan konsep yang telah di eksplorasi dengan Teknik penulisan bebas. Sedangkan refleksi dilakukan dengan cara pernyataan lisan perwakilan kelompok tentang apa yang dipelajari dari kegiatan tadi.




Finally…

“Satu kata untuk kegiatan tadi. Keren. Dengan singkat semua bisa aktif dan menemukan sebuah konsep. Sebuah metode belajar yang recommended untuk diterapkan”, kata salah satu guru TK

“Baru kali ini saya ikut pelatihan yang dalam waktu pendek bisa mudah memahami konsep yang dihasilkan. Mantap”, kata guru lainnya.

Selezat gado-gado, gabungan dari metode avtive learning, mind mapping, presentasi, diskusi, menulis feature, dan refleksi sangat menggairahkan dan mencerahkan pikiran.

Selamat mencoba!

Kamis, 31 Oktober 2024

Bahagianya seorang (calon) guru

Dua hari lalu, sepulang melaksanakan praktek mengajar (PPL) di salah satu SMA swasta begitu masuk rumah anak sulung kami dengan wajah menyala berkata, “hari ini aku Bahagia sekali”.

“Emang kenapa kak?”, tanya kami kompak dengan penuh penasaran.

“Alhamdulillah anak-anak tadi semua antusias mengikuti Pelajaran yang kubawakan. Padahal di jam terakhir lho. Biasanya mereka Sebagian besar mengantuk. Tapi tadi tak satupun yang mengantuk. Semua mengikuti Pelajaran dengan seksama”, kata kakak menjelaskan.

“Barokallah kak, berarti kamu cocok menjadi guru karena berhasil menghadirkan happiness pada anak-anak”, kataku menimpali.

 



Sekelumit kisah yang berdasarkan kejadian nyata diatas lagi-lagi memberikan penjelasan bahwa bahagianya seorang guru itu sederhana. Ketika siswa merasa senang dan mengikuti Pelajaran yang dibawakan dengan penuh perhatian dan ketertarikan itu sudah memberikan kepuasan batin yang luar biasa dalam diri seorang guru. Mengalahkan berita cairnya tunjangan sertifikasi yang lama ditunggu gak cair-cair. Hehe.

 

Ada satu hal penting yang patut di highlight. Yaitu tentang happiness.

Saya teringat salah satu prinsip pembelajaran yang diajarkan gurunda Munif Chatib (almarhum).cek disini Beliau pernah menyampaikan diantara indikator berhasilnya proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru adalah adanya happiness (kebahagiaan) dalam diri siswa maupun guru.

Jadi happiness juga termasuk hasil atau output siklus pembelajaran bahkan paling menentukan. Hadirnya happiness akan mengikat kuat pengalaman pembelajaran di relung hati semua siswa yang akan diingatnya sepanjang masa.

 

So, untuk para guru jangan lupa happy dan menghadirkan happiness dalam setiap kegiatan pembelajaran yang disajikan.

Senin, 07 Oktober 2024

LIVE-IN

Alhamdulillah, tadi pagi berkesempatan melepas istri tersayang berangkat mendampingi siswa SMM (Sekolah Muda Mandiri) live-in di Kebun Hanif Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.




Live-in, apaan tuch?

Live-in adalah salah satu model belajar khas sekolah alam.

Saya mengenal model belajar itu tahun 2007 saat menjadi guru SMP Alam. Saya mendapatkan gambaran tentang live-in dari sharing seorang guru sekolah alam Jakarta yang saat itu berkunjung ke sekolah kami.

Tidak lama setelah itu, saya mengagendakan live-in untuk siswa kelas VII. Bertempat di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Kalibening, Salatiga. Lihat disini 

Selama tiga hari mendampingi siswa live-in disana, saya merasa re-born (terlahir Kembali). Ada banyak inspirasi dan pencerahan seputar pendidikan yang saya dapatkan dari observasi kegiatan siswa, ngobrol dengan founder komunitas dan diskusi dengan para pegiatnya. Saya meyakini live-in sebagai model belajar yang sangat efektif dan efisien.

Semua siswa pun sangat menikmati live-in itu. Mereka terlihat sangat serius bahkan hingga lupa waktu untuk terus berkegiatan. Selama tiga hari siswa bisa belajar bagaimana seharusnya belajar dari nol sampai menghasilkan sebuah karya yang apik.

Diantara karya yang dihasilkan yaitu film pendek berjudul ‘Bulan Ramadhan, kembalilah’ dibuat oleh kelompok film. Sampai sekarang saya masih ingat tokoh utama film itu adalah Huda dan pak Arifin.

10 tahun kemudian, di tahun 2017 kembali saya berkesempatan merasakan vibes live-in. Yaitu saat mendampingi siswa SMM Angkatan pertama live-in di Kampung Design Magelang. lihat disini



Live-in itu intinya menfasilitasi siswa berada di sebuah lingkungan yang ada banyak sumber ajarnya.

Filosofi live-in mengambil dari kisah hidup manusia terbaik sepanjang zaman, yaitu baginda nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam yang masa pertumbuhan awalnya (usia 0-4 tahun) live-in di sebuah kampung cukup jauh dari rumah orangtuanya, yaitu kampung bani Sa’diyah. Kenapa di kampung bani Sa’diyah? Karena disana ada beragam biodiversity yang sangat baik untuk perkembangan anak di usia dini.

Jadi, 100% saya yakin live-in adalah model belajar yang very recommended untuk dilaksanakan.

Coba aja deh!

Kamis, 22 Agustus 2024

Bahagianya seorang guru


Bagi seorang guru, bahagia itu sederhana.

Saat siswa merasa rindu dengannya itu sudah sebuah kebahagiaan.

Seperti siang kemarin, saat salah satu orangtua siswa mengirim pesan pribadi menyampaikan pernyataan anaknya bahwa ia merasa rindu dan kehilangan bla bla bla…

Mak cess rasanya hati ini. Tak terlukiskan bahagianya.



Hal ini bukan kali pertama terjadi.

Pernah beberapa tahun lalu setelah selesai khutbah di lapangan dan hendak pergi meninggalkan lokasi tetiba dijegat seorang lelaki muda belia.

“Pak Joko, apa kabar pak?”.

Saya benar-benar lupa siapa dia. Karena sudah berpuluh tahun tidak ketemu.

Akhirnya diapun menceritakan sepenggal kisah masa lalunya saat masih sekolah dibangku SD yang akhirnya mengingatkan saya siapa dia.

Sungguh, diingat oleh siswa yang pernah diajar puluhan tahun silam adalah kebahagian yang tak terhingga.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Senin, 05 Agustus 2024

Harga sebuah formulir pendaftaran

Formulir pendaftaran adalah satu bendel berkas yang diisi calon siswa ketika mendaftarkan diri masuk sebagai siswa baru di sebuah sekolah atau menjadi siswa pindahan.

Pada kenyataannya, banyak sekolah yang menjadikan formulir pendaftaran hanya sebagai formalitas administrasi pendaftaran.

Setelah formulir disi dan dikumpulkan, biasanya akan diarsipkan dan disimpan di lemari. Ia akan berada disitu terus sampai siswa yang ada di data itu sudah lulus atau meningkgalkan sekolah.

Sehingga, formulir pendaftaran tidak ubahnya seperti kertas yang tidak terpakai. Yang pada akhirnya nanti akan dijual kiloan.

ilustrasi canva.com

Padahal, isi formulir pendaftaran bisa memberikan banyak kemanfaatan. Apa sajakah itu?

Pertama, bagi calon siswa formulir pendaftaran menjadi sarana untuk mengenalkan diri dan orangtua kepada pihak sekolah. Data yang diisikan di dalam formulir pendaftaran seakan mewakili sekian kali wawancara. Secara waktu menjadi lebih efektif efisien.

Kedua, bagi guru formulir pendaftaran berguna untuk menjadi sarana guru mengenali siswa.

Bagi guru, memahami siswa sangat menentukan proses interaksi antara guru dan siswa.. Semakin guru mengenali siswa akan semakin mudah dalam membangun interaksi. Data yang diisikan calon siswa akan sangat membantu guru dalam mengenali kondisi awal siswa.

Ketiga, bagi sekolah data yang diisikan di formular pendaftaran menjadi database awal siswa yang akan dimasukkan ke data pokok baik online (dapodik) maupun buku induk sekolah. Dari data tersebut sekolah tidak hanya mendapatkan data siswa tapi juga data orangtua yang bisa digunakan untuk membuat kebijakan khusus maupun bisa untuk tindak lanjut kerjasama kedepannya.

ilustrasi freeepik.com

Pesan bagi calon siswa atau orangtua isilah data di formulir pendaftaran dengan se-valid mungkin agar tidak memunculkan bias pemahaman.

Bagi guru dan manajemen sekolah gunakanlah data dengan sebaik dan sebijak mungkin untuk kemaslahatan bersama.

Sungguh sayang jika barang berharga itu tidak ada gunanya.

Kamis, 25 Juli 2024

Parenting Education

Jumat, sepekan yang lalu alhamdulillah berkesempatan mengisi parenting di TKIT Ibnu Abbas Pati.

Awalnya terjadwal sabtu. Tapi karena sabtu saya harus antar putri kedua ke pondok maka diajukan jumatnya.



Semula saya sempat menduga bakal sedikit yang hadir karena acara dilaksanakan di jam aktif kerja.

Alhamdulillah diluar dugaan yang hadir cukup banyak, ada 36 orangtua. Seperti biasa didominasi emak-emak, walaupun ada tiga bapak-bapak yang hadir.

Acara parenting ini dilaksanakan dalam rangka persiapan tahun ajaran baru yang akan dimulai hari seninnya. Setelah sebelumnya para guru melaksanakan raker untuk menyiapkan program kurikulum pembelajaran di tahu ajaran baru.



Sejam lebih sedikit saya menyampaikan materi yang mengambil tema “Bagaimana Rasulullah mendidik sahabat ibnu Abbas yang gemilang di usia dini”.

Tema diambil dari nama sekolah sekaligus memberikan pemahaman kepada orangtua tentang makna pemberian nama pada anak. Karena trend sekarang orangtua memberi nama hanay ikut-ikutan nama beken public figure yang kadang tak jelas maknanya.

Inti materinya adalah mengambil ibrah bagaimana Rasulullah mendidik Abdullah bn Abbas sepupu beliau sendiri tumbuh berkembang menjadi anak hebat di usia yang masih belia. Dua tahun setelah Rasulullah wafat Abdullah bin Abbas diangkat Sayyidina Umar menajdi penasehatnya ketka ia menjabat sebagai Amirul mukminin kala itu. Dan usia Abdullah bin Abbas saat itu baru 15 tahun.

Kehebatan Abdullah bin Abbas adalah buah dari tepatnya Pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah kepadanya sejak usia dini. Maka penting bagi sesiapa yang memiliki anak usia dini untuk mengkaji bagaimana cara Rasulullah mendidik para sahabat saat usia dini. Dengan harapan nantinya akan menghasilkan generasi yang hebat seperti hasil didikan Rasulullah.




Setelah sesi parenting selesai saya berkesempatan sharing dengan semua guru dan karyawan. Ada banyak persoalan yang kami diskusikan dan carikan Solusi.

Semoga semua guru TKIT Ibnu Abbas makin berkualitas dan bisa memberikan manfaat seluasnya untuk Masyarakat Pati khususnya.

Rabu, 17 Juli 2024

Raker: awarding, upgrading, planning

Apa yang biasa dilakukan oleh tim sekolah saat liburan seperti sekarang?

Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan tim sekolah saat masa transisi menuju tahun ajaran baru seperti sekarang. Yaitu; awarding, upgrading, dan planning.

Pertama, awarding. Artinya adalah pemberian penghargaan atas capaian. Pihak manajemen sekolah perlu memberikan penghargaan kepada timnya terutama guru.

Prinsipnya, sekecil apapun capaian perlu dihargai karena bisa menumbuhkan semangat di dalam diri si penerima penghargaan.


Awarding juga bisa menjadi bentuk pengakuan dari sebuah capaian. Bukan masalah bentuk hadiahnya yang penting, tapi ketika si penerima penghargaan disebut-sebut capaian atau prestasinya maka akan muncul perasaan kinerjanya diakui. Apalagi jika diberikan ucapan terima kasih, penghargaan sertifikat atau lainnya, itu sudah luar biasa. Penghargaan tidak selalu dalam bentuk uang ataupun barang yang berharga.

Bayangkan! Bagaimana seorang guru berfikir keras merancang kegiatan untuk siswa. Kemudian dia juga yang melaksanakan. Dia juga yang mengevaluasi, melakukan upaya follow up dari evaluasi semua dilakukan day to day selama setahun. Di akhir semester dia pun kadang memberikan penghargaan untuk siswanya. Kalau sebegitu rupa upaya seorang guru sangatlah layak dia mendapatkan penghargaan itu. Kalau tidak dihargai ya sungguh terlalu.

Menjadi kewajiban seorang kepala sekolah atau ketua yayasan untuk memperhatikan dan melakasanakan awarding untuk tim sekolah terutama guru.

Jika dilaksanakan, maka akan menambah kekuatan tim atau guru untuk lebih semangat lagi melanjutkan misinya.




Kedua, upgrading. Berarti peningkatan kemampuan atau istilah lainnya capacity building. Jika sekolah menginginkan berkembang maju maka upgrading guru menjadi perkara yang wajib dilakukan. Kalau tidak dilaksanakan maka rentan terjadi stagnasi atau bahkan futur.

Karena niscaya permasalahan seputar pendidikan anak akan terus ada. Bisa jadi masalah yang berulang, atau bahkan muncul masalah baru.

Masalah yang berulangpun butuh penganganan yang berbeda dari waktu sebelumnya agar tidak terulang lagi. Karena terulangnya masalah bisa jadi karena penanganan yang sama sehingga tidak efektif lagi.

Mendidik anak tidak bisa hanya bermodal kemampuan yang ada kemudian diam. Karena anak terus berkembang dengan ruang lingkup zaman yang juga terus berkembang.

Dulu, Ketika zaman TV masih hitam putih masalah anak tidak terlalu banyak dibandingkan dengan sekarang ketika setiap anak dipegangi gawai terhubung internet yang nyaris tak terkontrol aktifitas yang dilakukan mereka.

Dengan kondisi begitu, jika guru tidak terus belajar maka akan ditinggalkan siswa atau tidak dianggap apa yang disampaikannya.

Guru mesti terus mengasah kemampuan agar memunculkan kreatifitas dan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Jangan sampai kalah dan ter- disrupsi oleh gawai.

Apalagi jika sekolah ingin menaikkan taraf kedudukannya. Misal dari taraf unggul di kecamatan menjadi unggul di tingkat daerah dan seterusnya maka upgrading guru menjadi suatu keharusan yang bahkan harus terprogram dan secara kontinu dilakukan.




Ketiga, planning. Guru perlu difasilitasi untuk membuat planning kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan setahun kedepan. Keberhasilan perencanaan sangat menentukan hasil akhir. Kegagalan merencanakan sama saja dengan merencanakan sebuah kegagalan. Maka guru perlu jiddiyah dalam membuat sebuah perencanaan.

Seorang guru ketika mengajar tanpa perencanaan sebelumnya seperti orang yang sudah diagendakan performance tapi tidak melakukan latihan atau persiapan sebelumnya. Maka pasti pentasnya akan minimalis atau garing.

Sebuah film pendek yang tersaji apik adalah hasil take adegan dengan berkali-kali pengulangan. Bisa jadi puluhan atau ratusan kali take.

Syukur sudah banyak sekolah yang mengagendakan rapat kerja (raker) saat siswa sedang liburan, dengan tujuan untuk membuat perencanaan.

Ada setidaknya tiga hal penting yang perlu dipahami dalam mermbuat sebuah perencanaan.

Apa saja itu?

Simak di postingan berikutnya yach.

Rabu, 26 Juni 2024

Poster Peduli Lingkungan

Bab terakhir yang dipelajari di mata Pelajaran IPAS kelas V bertajuk bumiku malang. Menjelaskan tentang berbagai bentuk bencana yang terjadi.

Siswa kami ajak untuk membuat poster peduli lingkungan yang ditempelkan di area sekitar rumah mereka.

Harapannya dengan project ini mereka tumbuh kesadaran untuk peduli lingkungan sekitar rumah. Sekaligus bisa menginspirasi teman-teman mereka untuk bersama menjadi relawan peduli lingkungan.

Belajar bencana yang penting bukan tahu peristiwa bencana tapi memahami apa akar masalah yang menyebabkan terjadinya bencana dan tahu sika papa yang harus diambil untuk melakukan pencegahan terjadinya bencana.








Walhasil mereka pun semangat sekali membuat poster dan menempelkannya.

Dan ini adalah project terakhir yang mereka lakukan selama duduk di kelas V. semoga semakin meningkat kecerdasan sosial mereka.

Kamis, 13 Juni 2024

Pra Rapotan

InsyaAllah besok Jumat pekan depan adalah waktu pembagian raport kenaikan kelas tahun ajaran sekarang.

Alhamdulillah semua OTW ready.

e-Raport tinggal cetak.




Berkas-berkas lampiran semua sudah siap; rekap data kehadiran, rekap pengumpulan buku evaluasi amal ibadah harian, dokumen hasil asessmen akhir tahun satu bendel, sertifikat penghargaan untuk semua siswa, dll.

Yang penting, saat rapotan nanti adalah bagaimana semua pihak merasa bahagia. Orangtua bahagia, siswa bahagia, dan gurupun bahagia.

Tetiba teringat masa SD dulu.

Biasanya saat rapotan kenaikan kelas emakku dan tentu semua ibu temanku menyiapkan berkat untuk dibawa saat rapotan. Dari sejak sebelum fajar emak sudah sibuk di dapur memasak nasi lengkap dengan lauk pauk yang nantinya di bungkus besek berbahan bambu.

Sesampai sekolah berkat diserahkan ke guru wali kelas dan oleh guru nantinya akan di tukar dengan berkat kepunyaan siswa lain secara random.

Rasanya bahagia banget bisa makan berkat bareng, tidak peduli berapa angka merah yang ada di raport. Semua bersenang-senang. Sebuah adegan kebahagian yang sederhana.

Kayaknya asyik kalau tradisi itu dihidupkan Kembali.

Setuju nggak nie netizen?

Kamis, 06 Juni 2024

Talkshow dan Bedah Buku

Alhamduliilah, sesuai rencana buku ‘Misteri Keluarga Stonesia’ di Launching kemarin kamis, 30 Mei 2024 pukul 07.00-08.00 WIB.



Dari awal hingga akhir acara dipandu oleh host kondang, Dita dan Ashifa siswa kelas V SD Juara Semarang.

Acara diawali dengan tasmi Alqur’an surat al-Alaq ayat 1-5 yang dibawakan oleh Niam, dan terjemahnya dibacakan oleh Ibrahim.


Selanjutnya, siswa kelas V memberikan sedikit hiburan dengan menampilkan yel-yel kelas stonesia.

Puncak acara launching buku ‘Talkshow dan Bedah Buku’ dipandu langsung oleh penyusun buku sekaligus penulis satu judul cerita yaitu bapak Joko Kristiyanto alias pak Jek.




Talkshow diisi oleh dua panelis yang juga penulis cerita di buku ini. Pertama, Nafisa penulis tema misteri. Berdasarkan pengakuan pak Jek, tulisan Nafisa itulah yang memberikan inspirasi munculnya judul buku. Kedua, Muthia yang menulis empat judul cerita fabel.




Untuk sesi Bedah Buku menampilkan dua penulis yang me-review tulisan mereka. Pertama, Azka yang menulis dua judul cerita. Ia mengulas tulisannya yang berjudul “Wang Yoo Raja Lapangan”. Kedua, Shofa yang mengulas tulisannya berjudul “Lini Love Mama”.



Talkshow dan Bedah Buku diikuti oleh semua siswa dan guru serta beberapa orangtua anggota komite sekolah.

Berikut video liputannya:



Selesai acara banyak siswa yang menyerbu pak Jek bertanya, “pak mau beli buku harganya berapa?”.

Monggo yang ingin order nulis pesan di kolom komentar.

Rabu, 29 Mei 2024

Media Stonesia #3

Serba serbi Ramadhan




Media Stonesia edisi ke-3 meliput segala kegiatan Ramadhan siswa stonesia.

Ada banyak program yang direncanakan, mulai dari; berbagi takjil, One Day One Juz (ODOJ), itikaf, hingga sungkeman dan silaturahmi lebaran.

Program ODOJ dan itikaf menjadi program yang paling challenging.




Program ODOJ diikuti oleh 13 siswa. Alhamdulillah 10 diantaranya berhasil mengkhatamkan Alqur’an sekali selama Ramadhan. Ada satu siswa yang berhasil dua kali khataman.

Program itikaf memberikan pengalaman seru. Ibadah yang mulai menjadi langka ternyata bisa dilakukan siswa.




Semoga semua ibadah yang dilakukan selama Ramadhan kemarin diterima oleh Allah dan menjadi bekal mengarungi kehidupan 11 bulan kedepannya.

Selasa, 28 Mei 2024

Launching buku cerita fiksi


Buku cerita fiksi yang akan di launching berjudul ‘Misteri keluarga stonesia’.

Judul tersebut diambil dari judul bab yang ada di buku cerita tersebut.

Buku dengan tebal 190 halaman itu terdiri dari tujuh bab; Misteri, Keluarga, Persahabatan, Prestasi, Olahraga, Keseharian, dan Fabel. Dan berisi 41 judul cerita.




Buku akan dilaunching besok kamis, 30 Mei 2024 pukul 07.00 - 08.00 WIB di teras lantai I SD Juara Semarang.

Saat launching, pembicara akan membedah bagaimana proses penyusunan buku, sumber ide cerita, dan membacakan ringkasan beberapa cerita yang ada di buku tersebut.

Buku akan dibedah langsung oleh penulisnya, yaitu; Pak Jek penulis sekaligus penyusun buku, Nafisa penulis dengan jumlah halaman terbanyak, dan Muthia penulis dengan genre fabel.

Acara sepenuhnya akan dipandu oleh host kondang Ashifa dan Dita. Mereka juga salah dua dari 22 penulis cerita yang ada di buku tersebut.

Hadir ya!

Kamis, 16 Mei 2024

Fieldtrip

 

Fieldtrip, study tour atau piknik biasa dilakukan sekolah di akhir tahun Pelajaran. Entah kenapa saya lebih suka pakai istilah fieldtrip atau kunjungan lapangan. Mungkin karena tour atau piknik berkonotasi sekedar jalan-jalan atau senang-senang saja.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, kebanyakan study tour dilaksanakan sebagai bentuk tasyakur atau syukuran atas pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama setahun masa pelajaran.

Seperti itulah yang pernah saya alami. Sewaktu SD dulu saya piknik ke Jogjakarta dan sekitarnya (Candi Borobudur, Malioboro). Saat SMP kelas III piknik ke Bandung dan sekitarnya (Museum Geologi, Ciater, Gunung Tangkuban Perahu). Dan waktu SMA kelas III piknik ke Bali.

Dari pengalaman piknik tersebut, saya menyimpulkan sedikit sekali konten kegiatan dari sejak berangkat hingga pulang yang nyambung dengan materi pelajaran saat belajar di sekolah. Inilah hal esensial dari kegiatan study tour yang lebih patut diperbincangkan. Bukan hanya sisi teknisnya seperti yang baru viral sekarang. Walaupun hal teknis yang berjalan saat ini juga sangat perlu dievaluasi.




Mestinya, fieldtrip harus terkait erat dengan kegiatan pembelajaran yang berjalan. Fieldtrip bisa menjadi salah satu sarana untuk mengefektifkan proses pembelajaran yang dijalankan.

Berdasarkan pengalaman, setidaknya ada tiga manfaat yang bisa didapatkan dari kegiatan fieldtrip.

Pertama, fieldtrip menjadi sarana bagi siswa untuk mendapatkan data awal untuk menyiapkan pikiran saat masuk ke materi pelajaran baru. Konon, belajar akan efektif saat pelajar memiliki kesiapan untuk belajar. Diantara bentuk kesiapan adalah memiliki pengetahuan awal dari materi yang akan dipelajari. Ibaratnya seperti gelas yang setengah isi, bukan gelas kosong.

Kedua, fieldtrip memberikan pengalaman langsung. Istilah kerennya experiental learning. Siswa diberikan kesempatan untuk mengalami suatu kondisi tertentu yang menjadi dasar terbentuknya pengetahuan dalam nalar mereka. Hal ini juga berkesesuaian dengan teori pembelajaran konstruktivisme.

Ketiga, fieldtrip kaya sumberdaya pembelajaran. Dengan berbagai pengalaman nyata dan persoalan yang dihadapi akan mengaktifasi seluruh modalitas belajar yang ada dalam diri siswa sehingga bisa menumbuhkan kemampuan untuk bersikap presisi, bernalar kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi, dan berinovasi.

 



Secara teknis fieldtrip tidak harus selalu dilaksanakan secara klasikal atau rombongan. Fieldtrip juga bisa dilaksanakan oleh kelompok kecil atau bahkan individual.

Fieldtrip tidak selalu harus dengan pendampingan guru. Orangtua, saudara atau kerabat bisa saja dilibatkan untuk mensukseskan kegiatan fieldtrip.

Sehingga, secara biaya fieldtrip pun tidak harus mengeluarkan biaya yang besar.

Fieldtrip perlu mempertimbangkan jenjang usia belajar. Pilihan destinasi, moda transportasi juga perlu disesuaikan dengan umur peserta. Sehingga selama fieldtrip siswa benar-benar mendapatkan banyak inspirasi, ide baru yang membuatnya lebih semangat dan challenging untuk terus belajar.



By the way, ini hanya sekedar urun rembug saja dari seorang guru biasa.

Kuncinya, semua stakeholder pendidikan perlu terus semangat belajar untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas pendidikan Indonesia. Keep going growth to ‘Indonesia Gemilang 2045’.

Semangat!!